|
Thariqah dan Kultus Tokoh Islam |
|
|
|
|
Ditulis oleh Abu Sangkan
|
|
Rabu, 04 November 2009 12:57 |
|
Thariqah merupakan methode untuk mendidik murid agar disipilin didalam berdzikir kepada Allah. Dalam thariqah itu ada Mursyid …(pembimbing) sebagai washilah, biasa disebut syekh. Beliaulah yang menghantarkan jalannya rohani sang murid untuk bisa sampai kepada tingkat lebih tinggi, … kadang ada yang lebih ekstrim, kita disuruh membayangkan wajah seorang guru mursyid agar mempermudah jalan rohaninya, karena dianggap sang syekh memiliki kekuatan rohani yang tinggi, yang mampu menggetarkan dan membangkitkan rohani yang sudah lama tenggelam …
Didalam thariqah ada bai'at, harus memiliki dan mengakui syekh dan jalan thariqahnya, ... apakah Syekh Naqsabandy atau Syekh Abdul Qadir Jaelani seseuai dengan penciptanya.
Biasanya seorang murid di talqin (dzikrul maut), dengan cara dimandikan seperti orang mati dan kemudian dikafani … Setelah itu sang murid diwejang dan diijazahkan sebuah amalan dzikir yang harus dilaksanakan setiap waktu dengan jumlah tertentu … Dzikir-dzikir tersebut gunanya untuk membersihkan lathaif-lathaif, seperti meletakkan lafadz dzikir di dalam qalbu, di nathiqah … sirr sampai kullu jasadin … Jika sang murid menguasai dzikir tersebut dengan baik, maka ia akan dinaikkan kepada tingkatan dzikir yang lebih tinggi … muraqabah-muraqabah dst.
|
|
Baca selengkapnya...
|
|
Ditulis oleh Abu Sangkan
|
|
Didalam hidupnya manusia dinilai !! atau akan melakukan sesuatu karena nilai. Nilai mana yang akan dituju tergantung kepada tingkat pengertian akan nilai tersebut. Misalnya, seorang yang telah melakukan pembunuhan kemudian ia melakukan pengakuan dosa dihadapan pendeta dan dalam pengakuannya itu ia benar-benar menggambarkan suatu kesalahan atau dosa. Hal ini karena dilatarbelakangi nilai ketuhanan atas nilai baik dan buruk menurut agama, sehingga membunuh itu dosa hukumnya dan yang melakukannya itu salah.
Berbeda dengan orang yang menganggap hal itu suatu pembelaan yang harus ditempuh, maka pembunuhan bukanlah merupakan suatu kesalahan, akan tetapi merupakan kebanggaan yang harus dijunjung seperti budaya 'carok' pada etnis Madura (carok merupakan budaya Madura masa silam, yang menjunjung tinggi harga diri keluarga jika kehormatannya diganggu, maka carok adalah penyelesaian yang terhormat)
Di lain pihak, semakin seseorang bersikap setia pada tuntutan-tuntutan moral, semakin ia membuka diri terhadap dunia nilai-nilai dan realitas rohani. Boleh dikatakan bahwa ia menjadi sekodrat dengan mereka. Ia mencintai mereka, dan dengan demikian dapat melihat arti suatu jalan menuju kepada realitas rohani dan nilai yang terutama, yaitu Tuhan. Sehingga ia mengerti arti baik dan buruk atau salah dan benar dalam berperilaku !
Sebelum sesuatu itu ada (sebagai landasan etis) maka nilai baik dan buruk atau dosa dan pahala itu tidak ada, sehingga setiap perbuatan memerlukan sandaran nilai untuk dapat dipertanggung jawabkan atas nilai perbuatan seseorang itu !! Dalam kaidah usul fikihnya kullu syain ibahah illa ma dalla daliilu `ala khilaafihi setiap sesuatu itu adalah kebolehan sehingga sampai ada dalil yang menentukan nilai (haram atau halal)
|
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
Ditulis oleh Abu Sangkan
|
|
Kamis, 30 Agustus 2007 13:00 |
|
Untuk sementara kalangan, poligami begitu menjadi cita-cita yang menyenangkan dan yang lainnya justru kurang setuju terhadap poligami terutama bagi kaum wanita. Sebenarnya bagaimana kita memandang dan mendudukkan ayat-ayat mengenai poligami teresebut.
Mari kita kaji QS. An Nisa' ayat 3
"dan jika kamu takut tidak dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya) ,maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua ,tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil , maka (kawinilah) seorang saja. Atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya"
Pada ayat diatas dinyatakan, boleh menikahi wanita dua, tiga ,atau empat .. Jika kamu tidak mampu berbuat adil ..maka kawinilah seorang saja ..Kata "adil" disini belum dijelaskan secara rinci .apakah adil dalam pembagian materi atau adil dari sisi kasih sayang dan cinta.. Untuk mengetahui arti "adil " yang sah menurut Alqur'an adalah dijelaskan pada QS.An Nisa' ayat 129 .
"dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri (mu) , walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai) sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari)kecurangan, maka sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang"
|
|
Baca selengkapnya...
|
|
Membedakan Ruh dengan Jiwa dan Nafs |
|
|
|
|
Ditulis oleh Abu Sangkan
|
|
Senin, 19 Januari 2004 10:55 |
|
Assalamu’alaikum wr.wb.
Saya sering menemukan kata-kata atau kalimat bahasa Indonesia yang tidak mampu memuat makna atau padanan kata yang sesuai dengan bahasa Arab, Inggris ataupun bahasa lainnya, sehingga sampai sekarang kita terkadang bingung dengan istilah-istilah asing yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi rancu dan aneh.
Sebagai contoh adalah kata ‘qalb’, yang diterjemahkan menjadi hati, hati kecil, hati nurani dll, seakan-akan hati itu ada beberapa macam lapisan. Padahal sebenarnya qalb itu sifat dari jiwa, sedangkan jiwa itu termasuk An nafs (badan, sosok, wujud/berwujud/ berbentuk/berupa). Disinilah orang kebanyakan keliru, yang mengartikan “An nafs” hanya sebagai jiwa, padahal badan wadag (fisik) ini pun disebut An nafs (sosok, wujud kasar/ badan kasar).
Roh adalah rahasia Tuhan yang ditiupkan kepada nafs (jiwa atau badan), roh ini menyebut dirinya AKU, yang disebut bashirah (yang mengetahui atas jiwa, qalb, fisik dll ..... lihat tafsir shafwatut Attafaasir surat Al qiyamah: 14)
Agar tidak bingung, mari kita bahas satu persatu menurut dalil qoth’i.
Apakah roh itu ??
Mengapa Allah merahasiakan Roh dan mengaitkannya dengan Roh-Nya, dan di dalam Al qur’an termasuk kelompok ayat-ayat mutasyabihat (makna yang dirahasiakan), karena pada ayat tersebut terdapat kalimat “Roh manusia adalah Roh yang ditiupkan dari ROH-KU (Min ruuhii)” arti harfiahnya adalah Roh milik Allah. Akan tetapi para mufassir menafsirkan Roh sebagai ciptaan Allah.
|
|
LAST_UPDATED2 |
|
Baca selengkapnya...
|
|